Minggu, 19 Februari 2012

Repeat. Galau Night Part 2.


Malam minggu dateng lagi...
...dan seperti biasanya masih sama seperti malam-malam sebelumnya...
Di rumah. Di depan laptop.

Ba'da Isya tadi, calon suami kawanku si "pinky rabit" ke rumah untuk mengambil seserahan/hantaran lamaran yang seminggu lalu dititipkan padaku untuk dihias/dibentuk. Sesuai dengan request calon mempelai wanita yang meminta dibentuk kelinci, maka jadilah salah satu hantaran berbentuk kelinci. Oya, jangan berpikir kalo hantaran itu aku yang buat tapi yang pandai membentuk hantaran itu adalah ibuku. Eh tapi aku juga turut andil dalam proses membentuk hantaran itu loh. Aku membantu mencarikan / browsing gambar hantaran berbentuk kelinci dan sedikit memberikan sentuhan terakhir dengan membungkus plastik hantaran tersebut.
 Salah satu kreasi hantaran

Syiiip. Hantaran sudah diambil. Saatnya Me Time.
Me Time adalah waktuku untuk melakukan apa yang aku suka, apa yang aku mau.
Ini mungkin terdengar sederhana, tapi sangat berharga untukku.
Tadi sepulang kantor aku sudah melakukannya dengan berkunjung ke Toko Buku. Ternyata aku baru sadar kalo aku telah khilaf karena sudah memborong banyak buku-buku yang sebenarnya tidak ada dalam list pembelian bulan ini. Mungkin ini yang dinamakan pengeluaran tidak terduga.
Menulis.
Minggu ini aku punya PR. Mengerjakan Tugas Akhir salah seorang rekan kerjaku. Sedikit menguras otak yang rasanya telah lama tumpul. Tentunya aku lakukan dengan sungguh-sungguh dengan mencari bahan semaksimal mungkin. Dan kali ini aku menulis karya ilmiah. Bukan menulis curahan hati yang biasa aku lakukan seperti sebelumnya.

Di tengah kebuntuanku mencari ide menulis. Aku sempatkan untuk mencari tahu tentang aktivitas my ubi di malam minggu ini dengan me-sms dia. Seperti biasa, jawabannya sangat singkat dan semakin membuatku bertanya-tanya dalam hati what happen with our relationship.
Dan selalu saja my crazy friend yang satu ini hadir di saat yang tepat. Dia tiba-tiba sms kasih kabar kalo lagi makan di warung depan rumahku with his mom. Konsentrasi menuliskupun buyar sementara. Aku bergegas ke warung depan rumah dan bergabung bersama mereka. Ternyata sahabatku yang satu ini tidak bersama mamanya saja tapi bersama tetangganya yang aku kenal juga, bersama seorang anak kelas 4 SD yang dulu pernah menjadi subjek penelitian jaman kuliahku dulu. Anak itu bersama mamanya. Jadi terjadilah obrolan seru 5 orang sambil makan beragam menu yang ada di warung kecil depan rumah.

Saatnya melanjutkan menulis PR yang semakin mendekati deadline. Akhir Februari ini proposal tugas akhir ini harus segera diajukan ke Dosen Pembimbing jadi aku harus ekstra kerja keras untuk menyelesaikannya karena malam minggu depan aku sudah punya planning untuk menghadiri pernikahan sahabat karibku di seberang Jawa sana. Jadi sebelum hari Kamis ini PR ku harus udah kelar.

Sambil menulis aku setel salah satu stasiun televisi yang menayangkan program acara judulnya empat sisi kotak band. Band jebolan salah satu ajang pencarian bakat ini masih terus eksis walaupun ditinggal sang drummer. Eh tiba-tiba ada satu lagu yang kayaknya kok aku banget yah.. Ah enggak aku-aku banget sih.. Tapi emang seperti yang aku tanyakan dalam hati tadi...

Apa Bisa - Kotak

Jika aku jadi kamu, aku akan dengarkan
Jika aku jadi kamu, aku akan perhatikan
Yang ku keluhkan, selalu
Pantasnya kamu dengarkan aku dulu

Kali ini apa masih bisa
Aku tahan denganmu
Sebenarnya apa masih bisa
Kamu sayangi aku, apa bisa

Jika aku jadi kamu, tidak sulit mengalah
Karena aku ingin lama, sama kamu berjalan
Yang ku keluhkan, selalu
Pantasnya kamu dengarkan aku dulu

Kali ini apa masih bisa
Aku tahan denganmu
Sebenarnya apa masih bisa
Kamu sayangi aku
Apa bisa, apa bisa, apa bisa
Kali ini apa masih bisa

Kali ini apa masih bisa
Aku tahan denganmu (aku tahan denganmu)
Sebenarnya apa masih bisa
Kamu sayangi aku (apa bisa)
Kali ini apa masih bisa (apa bisa)
Sebenarnya apa masih bisa (apa bisa)
Kali ini apa masih bisa
Kita bersama-sama...apa bisa


Surabaya, 19 Februari 2012
@ama_lia

Sabtu, 04 Februari 2012

Galau night

Nggak pengen tau aku lagi ngapain? Nggak pengen tau aku sudah makan ato belom? Nggak pengen kasih kabar juga kenapa tadi siang smsku nggak dibalas? Sms cuma gitu-gitu aja. Jawabannya kalo nggak; Oke. Ya. Sudah. Oooo.

Mungkin itu seperti curhatan anak SMA yang akan uring-uringan saat pacarnya nggak sms/tlp seharian. Tapi aku sadar, sangat sadar bahkan! Kalo umurku saat ini udah nggak layak untuk mengikuti gaya pacaran anak SMA. Selalu berpikiran positif saat si dia tidak memberikan kabar seharian adalah suatu hal yang sudah biasa aku terapkan.
Namun entah kenapa di saat aku sedang membutuhkan dia untuk bertukar pikiran tapi selalu tidak bisa conect, istilahnya sih nggak nyetrum telepatinya. Salah aku juga sih pengen curhat tapi diem2an aja, nggak ngomong! Tapi pas udah hadep-hadepan dengan dia, akunya malah jadi speechles, kata-kata yang sebelumnya sempat terbesit di kepala seketika itu juga hilang begitu saja. Enggak tau harus ngomong apa! Sering itu aku alami.

Sampai pada akhirnya aku lebih nyaman bertukar pikiran dengan one of my crazy friends, jadi aku punya salah satu sahabat cowok, dulu saat kita sama-sama belum berpasangan hampir setiap hari saling menyapa via sms walaupun rumah kita berdekatan tapi rasanya kita sangat menikmatinya. Sampai terkadang aku jadi ketergantungan dengannya. Nyuci motor, nyervis motor, beli kacamata, beli handphone, dan apapun segala aktivitas yang membutuhkan teman ngobrol atau teman untuk memberikan pendapat mana yang cocok mana yang tidak. Aku lakukan bersama sahabatku ini.

Seperti malam ini saja contohnya. Aku mendapatkan sms dari si dia setelah beberapa hari kita tidak berkomunikasi, sangat singkat sekali smsnya, seperti pembukaan di atas. Rasanya hampir menangis. Tiba-tiba saja sahabatku ini sms, tepat setelah sms singkat dari dia. Seperti ada *klik* antara aku dan sahabatku ini. Aku memang tidak mengutarakan what happen with me tonight pada sahabatku ini. Tapi dengan kita hanya bersmsan sudah cukup membuatku terhibur, padahal kita smsan juga geje gitu, nggak jelas ngobrolin apa pokoknya ada aja yang diobrolin. Bahkan sampai saat aku memposting tulisan ini, aku masih bersmsan ria dengan sahabatku yang satu ini.

Lalu aku ingin dia seperti apa? Dia harus gimana?
Tidak perlu harus gimana-gimana. Cukup jadi diri sendiri saja.
Lalu bagaimana ketika dia sudah menjadi dirinya sendiri tapi aku tidak bisa mengimbanginya?
Entahlah... Hal itu yang sering kita bicarakan.
Kita berjalan menjadi pribadi kita masing-masing.
Apa yang dia suka, lakukanlah! Apa yang aku mau, tidak pernah dia mencegahku.
Perasaan nyaman itu ada ketika dia seorang kekasih mampu sekaligus menjadi seorang teman, kakak, ayah.
Kita melakukan hal-hal baru yang belum pernah aku lakukan dan yang jarang dia lakukan.
Lalu apakah kita pernah melakukan suatu hal yang sama-sama kita sukai?
Kalo aku pikir-pikir hampir tidak pernah.
Hanya saja, dia seorang guru dan aku juga pernah mengajar.
Memiliki sebuah sekolah Taman Kanak-kanak adalah sebuah impian kita.
Mungkin mimpi itu yang menguatkan kita. Mungkin saja. Aku berharap itu bukan sekedar mimpi. Wish come true.

Aku butuh seseorang yang dapat menguatkanku ketika aku sedang lemah.
Aku butuh seseorang yang mampu memahamiku tanpa harus banyak berkata.
Aku butuh seseorang yang bisa menghargaiku sebagai seorang wanita seutuhnya.


Surabaya,
malam 04 Februari 2012 menjelang 05 Februari 2012.
#malamminggugalau
@ama_lia