Sabtu, 04 Februari 2012

Galau night

Nggak pengen tau aku lagi ngapain? Nggak pengen tau aku sudah makan ato belom? Nggak pengen kasih kabar juga kenapa tadi siang smsku nggak dibalas? Sms cuma gitu-gitu aja. Jawabannya kalo nggak; Oke. Ya. Sudah. Oooo.

Mungkin itu seperti curhatan anak SMA yang akan uring-uringan saat pacarnya nggak sms/tlp seharian. Tapi aku sadar, sangat sadar bahkan! Kalo umurku saat ini udah nggak layak untuk mengikuti gaya pacaran anak SMA. Selalu berpikiran positif saat si dia tidak memberikan kabar seharian adalah suatu hal yang sudah biasa aku terapkan.
Namun entah kenapa di saat aku sedang membutuhkan dia untuk bertukar pikiran tapi selalu tidak bisa conect, istilahnya sih nggak nyetrum telepatinya. Salah aku juga sih pengen curhat tapi diem2an aja, nggak ngomong! Tapi pas udah hadep-hadepan dengan dia, akunya malah jadi speechles, kata-kata yang sebelumnya sempat terbesit di kepala seketika itu juga hilang begitu saja. Enggak tau harus ngomong apa! Sering itu aku alami.

Sampai pada akhirnya aku lebih nyaman bertukar pikiran dengan one of my crazy friends, jadi aku punya salah satu sahabat cowok, dulu saat kita sama-sama belum berpasangan hampir setiap hari saling menyapa via sms walaupun rumah kita berdekatan tapi rasanya kita sangat menikmatinya. Sampai terkadang aku jadi ketergantungan dengannya. Nyuci motor, nyervis motor, beli kacamata, beli handphone, dan apapun segala aktivitas yang membutuhkan teman ngobrol atau teman untuk memberikan pendapat mana yang cocok mana yang tidak. Aku lakukan bersama sahabatku ini.

Seperti malam ini saja contohnya. Aku mendapatkan sms dari si dia setelah beberapa hari kita tidak berkomunikasi, sangat singkat sekali smsnya, seperti pembukaan di atas. Rasanya hampir menangis. Tiba-tiba saja sahabatku ini sms, tepat setelah sms singkat dari dia. Seperti ada *klik* antara aku dan sahabatku ini. Aku memang tidak mengutarakan what happen with me tonight pada sahabatku ini. Tapi dengan kita hanya bersmsan sudah cukup membuatku terhibur, padahal kita smsan juga geje gitu, nggak jelas ngobrolin apa pokoknya ada aja yang diobrolin. Bahkan sampai saat aku memposting tulisan ini, aku masih bersmsan ria dengan sahabatku yang satu ini.

Lalu aku ingin dia seperti apa? Dia harus gimana?
Tidak perlu harus gimana-gimana. Cukup jadi diri sendiri saja.
Lalu bagaimana ketika dia sudah menjadi dirinya sendiri tapi aku tidak bisa mengimbanginya?
Entahlah... Hal itu yang sering kita bicarakan.
Kita berjalan menjadi pribadi kita masing-masing.
Apa yang dia suka, lakukanlah! Apa yang aku mau, tidak pernah dia mencegahku.
Perasaan nyaman itu ada ketika dia seorang kekasih mampu sekaligus menjadi seorang teman, kakak, ayah.
Kita melakukan hal-hal baru yang belum pernah aku lakukan dan yang jarang dia lakukan.
Lalu apakah kita pernah melakukan suatu hal yang sama-sama kita sukai?
Kalo aku pikir-pikir hampir tidak pernah.
Hanya saja, dia seorang guru dan aku juga pernah mengajar.
Memiliki sebuah sekolah Taman Kanak-kanak adalah sebuah impian kita.
Mungkin mimpi itu yang menguatkan kita. Mungkin saja. Aku berharap itu bukan sekedar mimpi. Wish come true.

Aku butuh seseorang yang dapat menguatkanku ketika aku sedang lemah.
Aku butuh seseorang yang mampu memahamiku tanpa harus banyak berkata.
Aku butuh seseorang yang bisa menghargaiku sebagai seorang wanita seutuhnya.


Surabaya,
malam 04 Februari 2012 menjelang 05 Februari 2012.
#malamminggugalau
@ama_lia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar